Tampilkan postingan dengan label tugas sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas sekolah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2009

JOZO ZOVKO


Dalam bahasa Kroasia Jozo berarti Yusuf. Ia lahir 19 Maret 1941 di desa Uzari bagian dari paroki Brijeg. Dia adalah anak ke 8 dari 10 anak-anak yang lahir dari Mate dan Milka Zovko dalam keadaan sulit dalam perang dunia ke2. Tetapi keluarga nya selamat dan Jozo kecil menyelesaikan SD di Uzari. Kemudian Paroki Brijeg menyadari bahwa Jozo tertarik dalam bidang keimamatan. Ia masuk ke seminari Bol di pulau Beac di selatan Split di laut Adriatik. Dia di pindahkan ke seminari utama di Sarajevo setelah masa percobaan dan pada usia 26 tahun, dia telah terdaftar di universitas Ljubljana untuk meraih gelar dalam bidang Teologi. Dia di tahbiskan di Sarajevo pada 6 agustus 1967. Dia di tugaskan ke gratz universitas di Austria untuk melanjutkan studi.

Setelah lulus pada awal tahun 1970 kembali ke Yugoslavia dimana Komunisme memerintah. Karena iman Jozo Zovko yang dalam, Paroki yang ia pimpin terpengaruh sehingga komunis mempengaruhi pihak bishop local untuk sering memindah tugaskan nya.

Saat bapa Jozo Zovko di kirim ke paroki St. James Madjugoria yang dalam bahasa kroasia berarti di antara dua gunung. Ia di peringatkan tentang politik dan korupsi dari para bishop karena pengaruh komunis. Madjugoria ini adalah sebuah desa kecil dimana iman dilakukan namun tak di harapkan dengan kesetiaan. Bapa Jozo mulai menasihati dan meminta masyarakat untuk kembali ke jalan yang benar yaitu hidup beriman. ia seperti Johanes Pembabtis karena ia mempersiapkan jemaat untuk delapan bulan yang akan datang setelah ia ditugaskan ke st. James sebagai pendeta baru.

Pada tanggal 24 juni 1981 saat ia tengah retreat di kroasia, dilaporkan penampakan Bunda maria di podrbo, yang juga di sebut apparition hill atau bukit penampakan. Ketika ia pertama di beri tahu tentang panampakan itu, dia tampak ragu-ragu, dia merasa anak anak-Mirjana Daragicevic, Ivanka Ivankovic Maria Pavlovic, Ivan Dragicevic, Vicka Ivankovic Dan Jakov Colo- itu semua menceritakan tipuan. Dia menghukum mereka karena pernyataan tersebut. Namun herannya, semua anak-anak itu meyakinkan bahwa semua itu bukanlah tipuan. Mereka bersikukuh pada kisah mereka bahwa Gospa telah menampakkan diri kepada mereka. Dia tetap tidak percaya sampai dia berlutut di St. James sendirian pada suatu pagi setelah misa dan mendengarkan suara dari surga yang berkata, “ Pergilah keluar, Lindungi anak-anak”. Berasamaan dengan itu anak-anak yang di kejar tentara komunis berlari terengah-engah menuju gereja. Dia segera tahu bahwa mereka tidak menipu dan berusaha untuk melindungi mereka. Untuk itu sebagai gantinya ia diperintahkan oleh komunis ke kantor pusat di mostar di mana ia dituduh memulai pemberontakan dengan anak-anak sebagai media penyebaran berita penampakan ke seluruh dunia, sampai-sampai paroki yang ia pimpin melawan komunis. Para komunis menyuruh Bapa Jozo untuk menghentikan perbuatan itu dan menyebarkan ke desa bahwa semua berita itu adalah gosip belaka. Seandainya dalam satu minggu sebelumnya ia tidak mendengarkan suara Allah maka ia mungkin telah menuruti para komunis. Karena ia tidak melakukan yang disuruh komunis, sebagai gantinya ia dihukum 3tahun penjara. Dalam penahanan, komunis beralasan penahanan itu untuk mengikuti tekanan pemerintah Yogoslavia dan di luar nagara yang pernah mendengar fenomena penampakan itu.

Pada musim semi, tahun 1993, Bapa Jozo dibebaskan dan dipindah ke dalam Tihaljina, Elia St. Disinilah tempat pertama kali kami datang, dihubungi oleh Imam Suci ini. Pada Mei tahun 1990, saat pertama kali ziarah ke Madjugoria, yang akan mengubah hidup kita selamanya. Kami telah berlutut di barisan komuni, setelah itu ia berbicara selama 2 jam penuh inspirasi. Dimana ia memberkati setiap orang setelahnya. Hal ini mengenai kembali menerima Tuhan di Komuni Suci. Selain itu roh kudus yang datang melalui karisma dari Bapa Jozo. Kami segera berlutut di depan patung Bunda kita yang terkenal sebagai “Our Lady dari Tihaljina” kami dapat merasakan kuasa Tuhan. Ia menempatkan 2 tangannya pada kepala kami. Saat itu kami merasakan kehangatan yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya. Di dalam roh kami merasakan perasaan yang paling rileks dan rasa penuh damai yang pernah dialami.

Karisma ini telah dialami oleh jutaan orang yang telah berkunjung ke Madjugoria dan melakukan perjalanan ke Tihaljina dan sekarang biara Siroki Brijeg untuk mendengar dan disentuh oleh imam yang luar biasa. Dia terus menerima peziarah, memberikan kotbah dan memberkati mereka sampai 1992, ketika perang di Kroasia dan kemudian Bosnia-Herzegovina dan kemudian menghentikannya. Dia mengfokuskan untuk membantu kaumnya melakukan perjalanan ke London, Washington, New York, Paris, Brussels, Strasbourg dan Roma pada misi perdamaian untuk mencoba meyakinkan para pemimpin politik untuk membantu menghentikan pembunuhan dan penderitaan orang yang bersalah. Itu adalah misi yang sama dengan Uskup Ximenes Belo Carlos yang baru saja kembali dari pengepungan dan penderitaannya saat di Timor Timur. Sepertinya dia telah terpanggil untuk “Melindungi Anak-anak setelah 6 Visionaris yang terancam, sehingga ia juga terpanggil oleh Tuhan untuk memperbaiki mental anak-anak dari perang dan kebencian. Dia membantu mendirikan International godparenthood yang menjabat sebagai sarana untuk orang yang mengadopsi anak Tuhan di antara banyak orang tua yang di bunuh dalam perang yang membunuh 280000 jiwa selama lebih dari 4 tahun dan tak terhitung rumah hancur dan seluruh gereja dan kroasia Bosnia-Herzegovina.Perusahaan ini didirikan pada 20 Desember 1992 dengan bapa JOzo sebagai presiden dari asosiasi. Hari ini lebih dari 4000 anak anak yang merawat rohani dan finansial di Siroki Brijeg melalui organisasi ini. Ada juga Keluarga suci institut yang terlibat dengan sponsor pembaruan anak anak di tengah Siroki Brijeg yang melayani sebagai pembersihan rumah untuk orang ornag dari semua agama dalam membangun kembali dan mendapatkan kembali untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri setelah perang penghancuran. Pemerintah pusat menyediakan makanan, penampungan, pakaian dan kesempatan untuk mendidik semua orang mengenai kesakralan martabat manusia. Pusat ini, yang seperti bapa Jozo menjelaskan,”monumen cinta….monumen yang berbicara kepada semua generasi di sini sebagai apa yang telah dilakukan oleh cinta dengan membangun kembeli sendiri di masyarakat untuk kebaikan”.

Walaupun ia telah di setujui dan di sponsori dari banyak organisasi, ia juga telah di gunakan oleh beberapa gereja. Salah satu nya adalah 9 doa novena dimana penyelenggara secara ilegal menandatangani namanya. Bapa Jozo mengakui bahwa ia menulis,”Dalam ini melalui fatalisme dan mengancam teks yang jelas bertentangan dengan pesan dari ratu damai yang untuk 18 tahun sebagai ibu telah menggerebeg dan meminta inspirasi jutaan peziarah dan pengikutnya menuju apostolate dari doa dan puasa”.

Proyek lain yang tidak direstui oleh bapa Jozo adalah pembuatan film “Gospa”. Perannya yang dimainkan oleh Martin Sheen yang telah salah merepresentasikan dirinya. Ia diperankan agar terlihat seperti seorang imam yang lebih tertarik pada image diriinya ketimbang pada jiwa-jiwa orang lain. Tidak ada kebenaran yang lebih jauh dalam Gospa selain bahwa ia adalah seorang laki-laki yang berbicara dari hati ke hati yang menunjukan kerendahhatian total dan penyerahan pada Allah yang perkasa. Meski Gospa dibuat sebagai bantuan untuk para pengungsi, namun karakter Bapa Jozo dan saudara perenpuannya Fabiana yang setia dan taat di Holywood sama sekali tidak menyampaikan kebenaran karakter mereka. Dalam sebuah wawancara di tahun 1995, Bapa Jozo kebanyakan menolak apa yang ada di film itu.

Sejak tahun 1992, ia telah menetap di biara Fransiscan di paroki Brijeg, dimana ia telah dilahirkan hanya dalam waktu singkat. Selain itu ia telah berpergian keliling dunia, pada dunia Timur, timur tengah, Amerika, dan di seluruh Eropa dan Afrika. I a menyebarkan pesan dari Madjugoria mengenai pentingnya ekaristi yang berlangsung. Seperti Bapa mengatkan,” Tempatkan hidupmu diatas altar. Kamu akan mmenyaksikan bagaimana seorang imam akan ditempatkan setetes air didalam se kantung penuh anggur. Tetesan air itu bercampur dengan anggur yang menandakan roh kudus. Anda dapat bersatu dengan kristus. Itulah mengapa didalam misa suci terdapat komuni-persatuan dengan Tuhan- anda bersama sengan Tuhan- adalah sebuah ekaristi yang kudus. Dia juga menunjukan lank ini pada jemaah di Portland, Oregon beberapa tahun yang lalu yang diambil dari www.madjugorje.org “ Mengapa gereja dan sekte tidak menoleransi Mass , tidak menghormati bunda kita? Karena mereka pergi tangan di tangan. Ya mereka pergi bersama. Bunda kita mengajar untuk mencintai Yesus, untuk jatuh cinta kepada-Nya, dan itu mengapa dia menempatkan kita pada ekaristi yang Kudus, dan menyuruh kita untuk berdoa sebelum kemuliaan ini, Sakraman yang diberkati, dari Yesus kita dapat belajar bagaimana menjadi roti bagi dunia, sehingga saya tidak takut untuk berkata “Ambil ini, semua dari Ku, dan makanlah” Bunda kita bekerja dengan mukjizat nya. Dia selalu adalah tanda, tanda dari dunia yang lebih baik, tanda dari kedamaian, dan kesatuan dengan gereja, tanda dari keselamatan kita.

Bapa jozo telah dianiaya, dipenjarakan, dituduh dari dosa tak terkatakan dari pelecehan anak-anak. Apakah yang menjadi pertahananya dari semua ini? “Bapa, maafkan mereka. Mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat” Dia dapat ditemukan dalam banyak jam-jam berdoa sebelum di Tabernakel, dia tidak membela dirinya dan reputasinya sendiri, namun Kehendak Tuhanlah yang terjadi tidak peduli apapun konsekuensinya. Dia merupakan contoh imam dari madjugoria yang di hari hari ini menjadi tertawaan di bawah pengawasan kaca seorang laki-laki seperti Bapa Svetozar Kraljivec, OFM yang sangat rendah hati dan suci yang dengan penuh kepahlawanan berperan selama perang telah pergi sebagai permintaanya; Bapa Ivan Landeka, OFM sebagai pastor dari St. James, Bapa skavko Barbaric yang telah dipilih sebagai pilihan ke 41 dalam TOP 100 Catholics di abad ini pada 14 Iktober; Bapa Petar Ljubic, OFM. Imam yang melihat Mirjana Dragicevic telah dipilih sebagai pembawa dan mengunmumkan 10 eahasia yang diucapkan Bunda Maria untuk kita lakukan. Bapa Philip Pavic, OFM, seorang fransisacan keturunan Amerika yang melayani peziarah dengan bahasa inggris di Madjugoria dan telah datang sebagai imam yang banyak bicara dan dicintai umatnya. Bpa Tomislav Vlasic, OFM, bapa Ivan Dugandzivic, OFM, Bpa Tomislav Pervan, OFM yang sekarang berada di Fransiscan dan Bpa Ljudevit Rupcic, OFM yang diwawancarai secara pribadi bersama bishop frane franic, yang merupakan mantan bishop yang berperan di Vaticam dalam hal tangan mostar tunggal.

Sekarang, Bapa Jozo melanjutkan pemerintahannya untuk orang-orang di Paroki Brijeg dan tak terhitung peziarah yang dating untuk mendengarnya dan terinspirasi. Dia juga terus melanjutkan perjalanan di dunia dan membawa pesan Bunda untuk semua. Ketika ia ditanya mengenai kritikan Madjugoria yang telah menjadi usaha yang komersial, ia mengatakan bahwa Bunda kita sangar murni dan saya ingin masuk kuil nya yang bersih dengan tidak ada usaha komersial pada semuanya. Namun bapa Jozo juga memahami bahwa masyarakat ingin mengambil sesuatu dari rumah Allah yang telah mereka kunjungi. Ini adalah sesuatu yang sering terjadi di tempat yang terkenal. Dia benar-benar yakin akan kebenaran bahwa yang telah mengunjungi Guadalupe, Lourdes atau Fatima. Mereka semua memiliki saluran keluar sama seperti Vatikan.

Ketika ditanya mengenai fakta penampakan itu sampai hari ini setelah sebuah 18, 5 tahun, dia tidak ragu mengaku bahwa “ Cerita buatan tidak akan bisa bertahan sebegitu lama. Dan itu tidak mungkin adalah pekerjaan Setan. Setan tidak memanggil untuk berdoa dan bicara.” Dan inilah apa yang Bapa Jozo lanjutkan untuk mengakar setiap yang bernafas untuk berdoa dan berbicara. Dengan kerendah hatiannya karisma fransiscan terwujud dalam pesan Madjugoria.

Karena pada masa terhukum nya Bapa Jozo, ia telah disiksa tanpa perikemanusiaan oleh tentara pemerintahan Komunis. Selain itu pada masa itu ada 601 orang pastor yang telah terbunuh di Yugoslavia. Namun karena keadilan Tuhan Pastor ini mampu melalui itu semua dengan penuh iman. Ia bebas dan tidak kembali lagi ke St. James namun menyebarkan pesan Bunda Maria ke seluruh dunia untuk menyadari kasih Yesus yang tidak terukur dan menyuruh kita untuk merespon panggilan Allah dari hati kita.

Bapa Jozo mendapat banyak ucapan terimakasih dari banyak orang karena peran-perannya untuk melindungi anak-anak dari Madjugoria. Salah satunya yang paling berharga ialah ucapan terimakasih dari Paus Johaness Paulus ke II pada tahun 1992, beliau memberikan sebuah ucapan terimakasih dan ia juga berkata untuk tetap melakukan pekwerjaannya melindungi Madjugoria dan bahwa Paus Yohanes akan selalu mendukungnya.


Peran dan tindakan Bapa Jozo yang membuatnya dibenci oleh pemerintah

Pemerintah yang berkuasa pada Negara Yugoslavia pada zaman itu ialah pemerintahan komunis yang tidak terlalu peduli mengenai keTuhanan. Mereka tidak melarang adanya kegiatan-kegiatan keagamaan. Namun tidak senang apabila kegiatan keagamaan itu terlalu taat dilakukan dan menjadi bagian dari jiwa penduduk di Yugoslavia. Kegiatan keagamaan yang telalu terang-terangan dan rutin dikhawatirkan menjadi alat tersendiri untuk dapat menghancurkan pemerintahan atau memberontak terhadap pemerintahan Yugoslavia.

Tindakan Bapa Jozo yang dianggap membuatnya dibenci oleh pemerintahan adalah keberaniannya untuk melindungi anak-anak yang tidak bersalah, ketaatannya terhadap perintah Tuhan. Ia dianggap emerintah terlalu keras kepala karena tetap nekat berpijak pada kebenaran bahwa Gospa telah menampakan diri pada anak-anak itu bahkan ia melindungi anak-anak itu dan rela mengorbankan dirinya sendiri. Ia tetap mengadakan misa dan melayani jemaat di Madjugoria meski pemerintah telah melarangnya. Ia menentang ketidak adilan pemerintah yang tidak mengizinkan umat Tuhan untuk berkumpul di Madjugoria. Karena mereka menganggap perkumpulan banyak orang itu mampu mendoktrinasi dan mempengaruhi masyarakat untuk dapat menentang pemerintahan yang ada. Khotbah Bapa Jozo pernah dinilai sebagai upaya untuk membangkitkan pemberontakan masyarakat.


Refleksi

Nilai-nilai yang dapat kami ambil dari Bapa Jozo Zovko

Keberanian

Kejujuran

Menentang ketidak adilan tanpa kekerasan

Ketaatan

Iman yang kuat kepada Allah

Mau Mengampuni

Kerelaan berkorban

Yang berkesan bagi kelompok kami….

Melihat tindakan Bapa Jozo Zovko yang begitu berani kami kagum kepadanya. Seberapa sering kita telah kalah terhadap ketakutan dalam hidup kita. Kita ini terlalu takut akan penderitaan yang kita alami apabila kita melakukan kebenaran, kita terkadang takut untuk menanggung resiko dari perbuatan yang kita lakukan. Padahal Tuhan Allah lah yang menjadi sumber kekuatan bagi kita. Kita umatNya telah dikarunia keberanian, bersama Nya kita tidak akan takut, Ingat Tuhan berkata “Fear Not, I am with you” . Tuhan lah gada dan tongkat kita, jadi jangan takut dengan apa yang akan terjadi dan janganlah khawatir untuk masa depanmu.

Kami juga memberikan acungan jempol kami atas tindakannya untuk membela kebenaran tanpa takut siksaan manusia atau dalam hal ini adalah Tentara Komunis. Hal ini lah yang dapat kami teladani dalam kehidupan sehari-hari untuk mampu membela kebenaran, jujur dalam segala keadaan kita. Seringkali kita sebagai manusia dalam keadaan terjepit masih saja berbohong hanya untuk kepentingan kita sendiri, hanya demi melindungi diri kita. Padahal kebenaran lah yang seharusnya menjadi dasar dalam setiap tindakan dan perkataan kita.

Imannya yang begitu kuat pada Yesus Kristus dan Bunda Maria yang membawanya kedalam penderitaan. Begitu taat dan setia nya Bapa Jozo terhadap Allah yang ia sembah hingga ia begitu percaya meski ia tidak melihat penampakan bunda Maria itu sendiri. Ia benar-benar mempraktekan apa yang Tuhan katakan bahwa berbahagialah orang tidak melihat namun percaya. Namun Tuhan adalah Allah yang adil tidak dibiarkannya Bapa Jozo terlalu lama menderita, ia akhirnya daoat dibebaskan. Demikianlah kita sebagai anak Tuhan. Kita haruslah memiliki iman yang kuat kepada Kristus. Dengan iman itulah, kuasa Tuhan dapat bekerja dalam hidup kita. Yesus bahkan berkata Iman sebesar biji sesawi saja mampu memindahkan sebuah gunung. Percaya kan lah hidup kita pada Allah dengan penuh iman maka itu artinya kita izinkan otoritas nya bekerja dalam hidup kita.

Selain itu tindakan yang berkesan bagi kami ialah kerelaannya untuk berkorban. Bapa Jozo bisa saja menghindar dari hukuman itu dengan melepaskan tanggung jawab nya dan melalaikan perintah Tuhan untuk melindungi anak-anak itu. Tetapi Bapa Jozo tidak melakukannya. Ia rela dirinya lah yang dihukum sebagai pengganti dari anak-anak itu. Ia rela berkorban untuk melaksanakn perintah Tuhan.

Kemudian sangat salut lah kami dengan pengampunan yang telah di berikan Bapa Jozo pada tentara-tentara yang menyiksanya, pada pemerintahan Komunis yang telah begitu kejam. Ia bahkan tidak mengingat-ingat kesalahan mereka. Seperti Yesus yang telah wafat di salib dengan mengampuni orang yang menyalibkannya demikianlah Bapa Jozo melakukannya. Pengampunan kita lihat pada zaman ini adalah sesuatu yang langka. Sulit untuk menemukan hati-hati tulus yang masih dapat mengampuni kesalahan orang lain yang mampu berdamai dengan dendam. Namun, Bapa Jozo yang telah tersiksa sekejam itu bisa melakukannya, mengapa kita yang mungkin hanya disakiti seorang teman tidak? Mestinya kita dapat lakukan pengampunan itu dalam kehidupan sehari-hari kita sesuai dengan perintah Allah dalam Lukas 7 : 14 untuk mengampuni saudara kita dan dalam doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus.

Sikap Bapa Jozo yang tidak melawan pemerintahan tanpa kekerasan ini juga patut kita hormati. Sebab dengan demikian genaplah perintah Tuhan dalam Roma 13 : 1-3 yaitu mengenai kepatuhan terhadap pemerintah. Pemerintah apapun yang telah Tuhan izinkan berkuasa atas kita umatnya bukanlah sebuah kebetulah. Kami yakin di setiap pemerintahan itu lah Tuhan memiliki rencana yang indah bagi umat nya. Meskipun pastor Jozo ini hidup di negara komunis, bukan berarti Tuhan tidak menyertai Negara tempatnya berdiam. Malahan melalui pemerintahan yang seperti itulah Tuhan berkenan hadir dan menumbuhkan iman, melawat umatnya secara luar biasa di Yugoslavia. Coba lihat pada Indonesia ini, diri kita mungkin sebagai umat Allah hanya lah golongan agama minoritas di Negara dan pemerintahan ini. Mungkin pendapat kita jarang terdengar, mungkin hak-hak kita untuk beribadah seperti di Banten, Manado tertindas oleh pemerintah. Namun percayalah di balik semua itu, Tuhan punya rencana yang indah buat kita untuk menumbuhkan iman kita. Tuhan juga tidak suka dengan yang namanya kekerasan karena perintah Tuhan bahwa kita harus mengasihi sesama kita bahkan musuh kita sekalipun seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Kalau pada kehidupan kita, kita masih sering menggunakan kekerasan, sekarang marilah kita berubah ke kelemahlembutan, kesabaran, dan penguasaan diri. Toh tanpa kekerasan kita bisa menjadikan dunia jauh lebih baik. Di bumi Indonesia ini lah tantangan bagi kita untuk menciptakan keadilan dalam keragaman agama, suku, ras, dan bangsa. Sudahkah kita mengupayakannya dengan tanpa kekerasan ?

Bagaimanapun tindakan Bapa Jozo ini mengingatkan kita pada nabi-nabi di zaman perjanjian lama. Nabi-nabi itu muncul di masa pemerintahan yang kacau tanpa kekerasan dan mereka diutus untuk menyadarkan akan ketidak adilan yang terjadi dan meluruskan jalan bagi umat Tuhan. Hal ini mengindikasikan kedilan Tuhan Allah. Ia tidak berkenan akan ketidak adilan di dalam umat manusia sehingga diutusNya lah nabi-nabi itu. Di kehidupan sehari-hari kita cobalah untuk menyadari ketidak adilan yang terjadi di masyarakat. Nyatanya di masyarakat telah terjadi begitu banyak diskriminasi berdasarkan kepentingan suku, agama, ras, dan kelompoknya masing-masing. Nah, bagaimana kita ini menanggapinya dengan harus memperjuangkan keadilan dan kebenaran itu di dalam kehidupan kita.

Jumat, 01 Mei 2009

SIMULASI HUKUM

Pada tanggal 17 Oktober 2008, SMA Regina Pacis mengadakan acara simulasi peradilan bagi anak-anak kelas 11. Bagi siswa-siswi kelas 11 ipa dan rsbi, acara ini diadakan di ruang belajar asrama Ursulin. Salah satu tujuan diadakannya acara ini adalah untuk menambah pengetahuan khususnya bagi anak-anak kelas 11 untuk mengetahui lebih dalam mengenai hukum&peradilan yang berlaku di Indonesia. Dalam simulasi ini dihadirkan kakak-kakak perwakilan dari Universitas Atmajaya Yogyakarta yang mengambil jurusan hukum.
Acara ini dimulai dengan diadakannya simulasi tindak pidana sederhana di persidangan dengan kasus perampokan. Kronologis ceritanya sebagai berikut:
Ada salah satu mahasiswi yang bernama Elisa. Ia hendak pulang ke Solo menggunakan bis. Sesampainya di terminal, ia pun ingin menghubungi bibinya yang akan menjemputnya di terminal. Waktu itu hari sudah gelap, dan ternyata hpnya low bat dan akhirnya mati. Elisa pun mencari wartel terdekat. Waktu itu, Elisa mulai merasa diikuti oleh seorang laki-laki. Dan ternyata benar, lelaki itu adalah perampok.
Setelah itu dilakukan persidangan,yang dilakukan pertama kali di persidangan adalah panitera membacakan berita acara. Setelah itu, hakim, penuntut umum serta petugas masuk ke dalam ruang persidangan dan para hadirin berdiri. Lalu persidangan 127/Pidana biasa/Pengadilan terbuka Surakarta pun dibuka dan salah satu hakim mengetok palu sebanyak 3 kali.
Terdakwa pun diperbolehkan masuk setelah hakim menyuruh penuntut umum untuk memanggilnya. Dalam hal ini, penuntut umum dibantu oleh petugas. Setelah itu, terdakwa yang bernama Oge Maroge itu diminta untuk duduk di kursi didepan hakim ketua. Dalam persidangan, terdakwa harus dalam kondisi yang sehat sehingga hakim harus bertanya kepada terdakwa apakah dia sedang sehat atau sakit. Dan terdakwa harus selalu bersikap sopan meskipun ia adalah seorang anak dari ahli petinggi.
Lalu hakim memeriksa data-data terdakwa. Setelah itu, penasihat hukum terdakwa diperbolehkan masuk dan harus menunjukkan kartu izin praktek serta surat kuasa khusus yang akan dicek oleh penuntut umum. Setelah itu surat dakwaan dibacakan. Surat dakwaan adalah akta yang dibuat oleh Jaksa Penuntut Umum yang berisi syarat formil dan syarat materiil. Syarat formil meliputi nama lengkap, tempat lahir, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan terdakwa. Syarat materiil meliputi uraian yang cermat, jelas dan lengkap mengenai unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan. Dalam membuat surat dakwaan ada 2 yang harus diperhatikan:
1. Tempus delicti yaitu berbicara mengenai waktu kejadian tindak pidana.
2. Locus delicti yaitu berbicara tentang tempat kejadian tindak pidana.
Setelah itu terdakwa diperbolehkan mengajukan eksepsi. Dan penasihat hukum mengajukan eksepsi bahwa tempat pidana dilakukan adalah di Sukoharjo tetapi persidangan dilakukan di Surakarta. Tetapi ternyata eksepsi ditolak oleh hakim. Eksepsi adalah tanggapan/tangkisan dari advokat untuk menanggapi surat dakwaan yang dibuat oleh Jaksa Penuntut Umum. Eksepsi belum menyangkut pokok perkara Karena eksepsi itu hanya berbicara mengenai kompetensi relative, kelengkapan surat dakwaan, dan untuk menentukan apakah surat dakwaan sudah kadaluwarsa atau belum.
Pada saat simulasi peradilan, persidangan pertama telah selesai. Dan kemudian dilanjutkan persidangan kedua dengan membawa saksi-saksi. Hakim memberikan putusan sela. Putusan sela adalah putusan yang diberikan oleh hakim sebelum putusan akhir. Putusan sela hanya menyangkut surat dakwaan yang dibuat oleh Jaksa Penuntut umum, eksepsi dari advokat serta berisi mengenai replik dan duplik.
Lalu penuntut umum melanjutkan tuntutan dengan menghadirkan saksi. Dalam hal ini petugaslah yang mengantarkan saksi ke ruang persidangan. Saksi yang pertama bernama Elisa. Elisa duduk pada posisi A dan terdakwa duduk pada posisi D (lihat skema pada halaman 1). Hakim bertanya kepadanya apakah ia mengenal, ada hubungan darah atau pekerjaan serta menanyakan keadaan Elisa. Setelah itu Elisa harus menunjukkan surat identitasnya dan panitera bertugas membacakannya.
Sebelum Elisa mengungkapkan kesaksiannya, Elisa harus bersumpah akan memberikan kesaksiannya sesuai apa yang telah ia lihat dan dengar maka ia tidak boleh mengira-ngira. Dalam mengucapkan sumpah, tangan kiri berada di Alkitab dan petugas membantu membawakannya serta Elisa harus mengangkat tangan kanannya dengan jari telunjuk dan jari tengah terbuka (yang lainnya ditekuk). Kata-kata yang harus diucapkan Elisa adalah : ”Saya berjanji sebagai saksi bahwa saya akan memberikan keterangan yang sebenarnya dan bukan yang tidak sebenarnya. Semoga Tuhan menolong saya.”.
Setelah itu saksi diminta untuk menceritakan kronologis perampokan tersebut. Dalam kesaksiannya, Elisa berkata bahwa ia hendak pulang ke Solo ke rumah tantenya menggunakan bis. Sesampainya di terminal, ia pun ingin menghubungi bibinya yang akan menjemputnya di terminal. Waktu itu hari sudah gelap, dan ternyata hpnya low bat dan akhirnya mati. Sang saksi pun mencari wartel terdekat. Waktu itu, Elisa mulai merasa diikuti oleh seorang laki-laki. Dan ternyata benar, lelaki itu adalah perampok. Perampok itu menarik tas Elisa tetapi Elisa tetap berusaha mempertahankan tasnya karena adanya barang berharga seperti perhiasan dan beberapa barang dari kekasihnya. Perampok itu pun menapar Elisa hingga ia jatuh dan merasa pusing. Ia juga diancam dengan pisau dan diancam akan deiperkosa jika Elisa tidak menyerahkan tasnya. Akhirnya Elisa pun menyerahkan tasnya kepada perampok itu dan perampok itu langsung pergi.
Setelah mendengarkan kesaksian Elisa itu, Elisa pun diberikan sejumlah pertanyaan. Dari penuntut umum ia ditanyai jam berapakah kejadian itu berlangsung dan Elisa pun menjawab ari jam 20.00 WIB dan waktu itu keadaan sepi dan tak ada orang. Dari penasihat hukum ia ditanyai mengapa ia dapat mengenali terdakwa padahal pada saat itu keadaannya gelap. Dan saksi menjawab ia mengenali terdakwa dari rambutnya yang gondrong serta penampilannya yang terkesan tidak rapi. Setelah itu Elisa diminta untuk duduk menempati posisi C (lihat skema pada halaman 1) karena dianggap masih diperlukan.
Lalu jaksa penuntut umum menghadirkan saksi yang kedua yang bernama Thea. Petugas harus mengantarkan saksi ke ruang persidangan. Pada saat itu, Thea menempati posisi kursu di depan hakim. Sebelum bersaksi, Thea juga ditanyai bagaimanakah keadaan Thea pada saat itu, dan Thea juga harus bersumpah seperti Elisa pada sebelumnya. Perbedaannya, Thea harus mengangkat tangan kanannya dengan jari manis, jari tengah dan jari telunjuk terbuka dan lainnya ditekuk. Setelah itu, saksi kedua inipun ditanyai apakah ia mengenal terdakwa. Dan Thea menjawab bahwa ia mengenal terdakwa. Thea hanya mengenal sekedar mengetahui bahwa terdakwa adalah orang yang suka membuat onar di kampong Thea. Tetapi saat Thea ditanya apakah Thea mempunyai hubungan darah atau hubungan pekerjaan, Thea menjawab tidak.
Kebetulan pada saat perampokan, Thea melihat kejadian tersebut tetapi tidak berani menolong. Pada saat itu, Thea sedang berada di perjalanan pulang dari terminal. Ia ke terminal bermaksud mau membeli tiket untuk saudaranya. Setelah itu Thea ditanyai mengapa ia yakin bahwa perampok yang ia lihat itu benar-benar terdakwa. Dan Thea pun menjawab karena terdakwa suka berada di kampungnya untuk membuat onar. Jadi otomatis ia mengenali perampok itu dari penampilannya dan ciri-cirinya yang sama dengan Oge Maroge yang suka membuat onar di kampungnya itu meskipun dalam keadaan yang gelap.
Pada saat itu, terdakwa tidak terima atas kesaksian tersebut. Terdakwa membela dirinya dengan mengatakan bahwa ia di sana bertujuan untuk membantu Elisa. Thea melihat dirinya berlari karena ia ingin mengejar perampok yang asli. Tetapi hakim tidak menggubrisnya. Hakim hanya mengatakan bahwa terdakwa dan penasihat hukum dapat menuliskan pembelaan di nota pembelaan bukan pada saat persidangan tersebut.
Setelah itu, kedua saksi diperbolehkan meninggalkan ruang sidang dan sidang ditutup. Contoh sidang perkara tindak perdana pun telah selesai. Lalu kakak-kakak dari Universitas Atmajaya itu memperkenalkan diri masing-masing.

Pembahasan

Terdapat 4 alat bukti yakni:
1. Surat
2. Saksi
3. Keterangan saksi ahli
4. Petunjuk
Saksi adalah orang yang melihat, mendengar atau mengalami kasus tersebut. Dalam hal ini saksi tidak boleh mengira-ngira, sehingga saksi harus yakin dengan apa yang ia katakan. Sebelum bersaksi, ia harus bersumpah terlebih dahulu. Setiap agama mempunyai cara sumpah yang berbeda-beda. Apabila saksi terbukti menyatakan kesaksian yang salah (sumpah palsu) maka akan dikenakan sanksi (penjara).
Pada agama Kristen, tangan kiri berada di atas Alkitab dan tangan kanan harus diangkat dengan posisi jari telunjuk dan jari tengah terbuka serta yang lainnya ditekuk. Pada agama Katolik, tangan kiri berada di atas Alkitab dan tangan kanan harus diangkat dengan posisi jari manis, jari tengah dan jari telunjuk terbuka serta yang lainnya ditekuk. Dan dalam agama Kristen dan Katolik, saksi harus mengucapkan ”Saya berjanji sebagai saksi bahwa saya akan memberikan keterangan yang sebenarnya dan bukan yang tidak sebenarnya. Semoga Tuhan menolong saya.”. Sedangkan dalam agama Islam, saksi membelakangi petugas yang membawa Alquran. Alquran tersebut diletakkan di atas kepala saksi sambil saksi mengucapkan sumpah. Dalam agama hindu budha, menggunakan dupa. Cara sumpah yang beragam tersebut disesuaikan dari agama dari saksi itu sendiri.
Saksi ahli adalah saksi yang di datangkan bukan karena melihat, mendengar dan mengalami kasus tersebut tetapi karena ia mempunyai pengetahuan. Misalnya dalam hal telepatika sehingga hakim yang tidak tahu menahu tentang telepatika menjadi tahu karena kehadirannya.
Jaksa penuntut umum adalah jaksa yang diserahi tugas bahwa terdakwa bersalah. Dia harus memandang bahwa terdakwa benar-benar bersalah.
Penasihat hukum/pengacara/advokat adalah orang yang mendampingi klien di pengadilan. Dalam hal ini ia harus memperjuangkan hak-hak terdakwa agar tidak diperlakukan semena-mena dan agar terdakwa dapat bebas.
Hakim adalah pemimpin jalannya persidangan agar berjalan dengan lancer. Dalam kasus hukum pidana bertugas mencari kebenaran materiil atau kebenaran yang sesungguhnya. Hakim peradilan berjumlah 3 karena : (1) untuk menghindari subyektivitas. (2) saat vote tidak mendapatkan hasil seimbang. Tetapi juga diperbolehkan hakim berjumlah 5/7/9. Hakim Mahkamah Konstitusi untuk menguji UU ada 9 orang. Hakim boleh berjumlah satu pasa tindak pidana ringan (tipiri). Contoh kasusnya adalah tindak pidana lalu lintas.
Keputusan dalam persidangan dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Bebas (perbuatan bukan tindak pidana, tidak melanggar hukum dan tidak terbukti bersalah)
2. Lepas dari tuntutan hukum (melawan hukum tetapi bukan perbuatan pidana)
3. Pemidanaan (melawan hukum dan merupakan perbuatan pidana)
Dalam KUHP no 10 hukuman pidana dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Pidana pokok (mati, penjara, kurungan, denda)
2. Pidana tambahan (pencabutan hak, perampasan barang tertentu, keputusan hakim)
Ada 3 macam tahanan yaitu:
1. Rutan (rumah tahanan)
yaitu tempatnya kepolisian untuk proses penyelidikan dan penyidikan. Konsekuensi pidana rutan adalah putusan yang dijatuhkan hakim dikurangi waktu selama di rutan. Misalnya divonis 12 tahun, telah berada di rutan selama 1 tahun maka ia dapat bebas lagi setelah 11 tahun mendatang.
2. Rumah sendiri (tahanan rumah)
Yaitu rumah pribadi terdakwa dimana terdakwa hanya bias keluar sampai halaman rumah. Terdakwa akan dijaga oleh pihak keluarga dan kepolisian. Konsekuensi pidana tahanan rumah adalah putusan yang dijatuhkan hakim dikurangi 1/3 waktu yang dijalani saat menjadi tahanan rumah. Misalnya vonis hukuman 12 tahun, telah menjadi tahanan rumah selama 1 tahun maka ia dapat bebas lagi setelah 11 tahun 8 bulan mendatang.
3. Tahanan kota
Yaitu tahanan di mana terdakwa hanya boleh berada dalam kota itu dalam proses penyidikan. Konsekuensi pidana tahanan kota adalah putusan hakim dikurangi 1/5 waktu yang dijalani saat menjadi tahanan kota. Misalnya vonis hukuman 12 tahun, telah menjadi tahanan kota selama 10 bulan maka ia dapat bebas lagi setelah 11 tahun 10 bulan.
Kasus yang telah diserahkan ke pengadilan disebut penuntutan. Prosesnya adalah penyelidikan (termasuk tindak pidana atau bukan) lalu penyidikan (telah terjadi tindak pidana dan menemukan tersangka) dan yang terakhir adalah penuntutan. Ada pun tujuan penahanan itu sendiri adalah:
1. tidak melarikan diri
2. tidak menghilangkan bukti.
Hukum adalah seperangkat aturan-aturan yang mengatur segala perbuatan yang seharusnya dilakukan atau yidak dilakukan. Sumbernya adalah KUHP. Hukum dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Hukum formil (bagaimana cara mempertahankan hukum material)
2. Hukum material (isi atau segala hal yang mengatur perbuatan yang boleh atau tidak boleh dilakukan)
Setelah dilaksanakannya pembahasan, siswa-siswi yang belum jelas diperbolehkan mengajukan pertanyaan kepada kakak-kakak pendamping dan acara simulasi peradilan selesai pada pukul 11.45 WIB.

Suster Ngesot Gentayangan

Produksi : Multivison
Produser: Raam Punjabi
Sutradara: Nanang Istiabudi
Cerita : Herry B. Arrisa
Durasi : 87 menit
Pada tahun 1980 an, seorang suster tewas di bunuh setelah diperkosa oleh laki2 penjaga kamar mayat yang bernama Suwito. Sebelum suster-suster itu diperkosa dan dibunuh, kakinya dipotong lalu dikubur di suatu tempat. Konon, sudah 7 wanita tewas oleh laki-laki yang sakit jiwa ini, semuanya dikubur jadi satu kuburan dan ditanami pohon pisang. Uniknya, hingga kini pohon pisang itu masih ada dan menjadi tempat angker. Akting penjaga kamar mayat ini diperankan oleh Darto, kesannya agak sedikit dibuat-buat. Namun ia terlihat benar-benar seperti orang yang tidak waras akal sehatnya dan begitu kejam, penuh nafsu dan ambisi. Suster ngesot nya diperankan oleh Irene Anastasia yang telah cukup baik membuat bulu kuduk penonton bergetar karena terkejut. Karakter hantu ini antara lain sama seperti arwah penasaran lainnya yang penuh dendam, penasaran, dan suka menakut-nakuti makhluk lain.
Sekitar 20 tahun kemudian, ada 2 pasangan ABG berpacaran di sekitar pohon pisang angker tempat dikuburnya 7 suster itu. Erlangga yang sedang berpacaran dengan Vio tidak dapat mengendalikan diri dan melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh mereka yang belum menikah di tempat angker itu. Peran Erlangga ini dibawakan oleh Mario yang meski bukan actor terkenal telah berusaha dengan baik menjiwai peran Mario yang digambarkan sebagai anak muda yang tidak mampu mengendalikan diri, penakut, tidak setia kawan, dan tidak percaya kepada Tuhan. Peran Vio dibawakan oleh Sinta Della dengan cukup penjiwaan terutama pada saat ia dikejar-kejar arwah terlihat keberaniannya bahkan ia mampu mengejar penjaga makam yang psikopat itu. Namun karakter Vio sebagai anak muda terutama sebagai seorang perempuan, ia tidak mampu menolak godaan akan kenikmatan duniawi seperti apa yang ia lakukan bersama pacarnya di bawah pohon pisang itu.
Lain halnya dengan Resi dan Aditya yang juga sedang di mabuk asmara, saat itu Resi buang air di sebuah nisan tanpa permisi dahulu. Karena kelalaian mereka inilah arwah-arwah suster itu bangkit menghantui mereka. Resi yang diperankan oleh Sintha Putri dengan cukup baik meski ia bukan merupakan seorang aktris yang dikenal public. Ia diperankan dalam karakter anak SMA yang ceroboh dan penuh ingin tahu. Sedangkan Aditya diperankan oleh Arie Dwi Andika sebagai seorang anak SMA yang tergoda kenikmatan sesaat, tidak percaya Tuhan, dan cukup setia kawan dan berani.
Di film ini kita dapat menyaksikan kejadian2 aneh yang dialami oleh kedua2 pasangan tersebut. Dimulai pada Resi, dimana ketika dia masuk ke dapur Aditya, dia tiba-tiba masuk ke hutan dimana tempat kuburan para suster tersebut. Kemudian Vio juga mulai menghilang, setelah itu Erlangga dan Aditya mulai cemas dan mencoba mencari mereka. Namun mereka malah diganggu para arwah gentayangan. Ternyata Vio dan Resi tersesat dan dipermainkan di kuburan itu dalam wujud rumah sakit yang suram dan seram. Vio dikutuk hingga perutnya membesar dan Resi dikutuk hingga dadanya membesar .
Akhirnya mereka dapat pulang. Resi diceritakan telah meninggal, sementara Vio, Anggga, dan Aditya pergi ke dukun. Di sana, mereka bertiga diminta membongkar kuburan para suster dan menguburkannya secara layak. Di tengah perjalanan ke makam itu Vio hilang, sedangkan Aditya dan Angga bertengkar sendiri, karena ketakutan untuk membongkar dan mengubur tengkorak para suster. Pada saat dikuburkan, Aditya dibunuh oleh suster sedangkan Angga melarikan diri. Ketika dalam perjalanan melarikan diri, arwah Resi dan Aditya membunuh Angga. Vio bebas dari kutukan dan akhirnya dia kembali ke kehidupannya dengan tenang.
Film yang disutradarai Nanang Istiadi ini bukan satu-satunya film horor Indonesia yang rame-rame di release pada tahun 2007. Tak heran dengan penggunaan akting-akting muda dan cerita horor yang sudah banyak beredar di masyarakat ini belum mendapat sambutan yang cukup baik. Akting para artis muda yang sudah berusaha dengan cukup baik tetap saja kurang meyakinkan di mata penonton. Belum ada akting yang menonjol, aktingnya masih datar, ekspresi yang terlihat kebanyakan hanya sekedar ketakutan, kebingungan, akting para pemain ini belum total dan masih terkesan dibuat-buat.
Film ini mengambil setting di tempat yang terkesan angker yaitu sebuah hutan, rumah sakit, kuburan, rumah dukun, juga di rumah karakter Aditya dan Erlangga. Sangat disayangkan perpindahan tempat di film yang beralur maju ini kurang begitu jelas. Seperti pada saat Vio didapur ia tiba-tiba tersesat di hutan lalu di rumah sakit yang angker. Secara umum suasana dalam film ini begitu mencekam, menegangkan, menyeramkan. Terkadang juga terjebak di dalam suasana sunyi dan mencekam atau didalam kegembiraan sesaat seperti saat perjalanan pulang dari hutan. Waktu pengambilan setting film ini di tahun 2007 dan kebanyakan pada waktu gelap, meski ada juga yang mengambil waktu siang, tetap kesannya menyeramkan.
Bahasa yang dipakai di dalam film ini adalah bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti. Karena para pemeran yang berperan sebagai anak SMA di Jakarta, sering pula terdengar logat elo-guwe yang begitu mendarah daging. Musik yang dipakai kebanyakan hanya musik-musik yang menimbulkan bulu kuduk berdiri, teriakan-teriakan, musik horor dan menegangkan mewarnai sepanjang cerita. Kostum-kostum yang ada pun simpel, hanya pakaian sehari-hari, pakaian anak SMA, pakaian penjaga rumah sakit yang serba putih. Kostum yang agak aneh adalah pakaian suster ngesot yang hanya selembar kain kafan putih dengan rambut yang tertutup wig acak-acak an dan wajah yang penuh dengan bedak putih yang sebenarnya kurang meyakinkan penonton dan kurang membuat kesan seram.
Unsur budaya yang ada adalah kepercayaan adanya hantu, arwah suster ngesot. Selain itu dengan penggunaan dukun untuk mengatasi masalah hantu, arwah, masalah yang terbukti tak bisa menyelesaikan masalah. Ada juga penggunaan pohon pisang untuk menandai tempat yang angker. Unsur budaya yang digunakan begitu berbau mistis dan bertujuan untuk mendukung jalannya cerita horor ini.
Tidak ada film yang dibuat tanpa pesan yang disampaikan kepada penonton, demikian pula pada film Suster Ngesot Gentayangan ini. Kita sebagai penonton diajarkan untuk bersikap hati-hati, tidak ceroboh, tidak bertindak sembarangan di tempat yang asing apalagi tempat-tempat angker. Selain itu sebagai siswi SMA, perempuan khususnya, kita harus menjaga kekudusan tubuh kita sebelum pernikahan. Kita harus mampu mengendalikan nafsu dan membedakan antara nafsu dan cinta. Sedangkan bercermin dari pembunuh psikopat di dalam film ini tentu saja kita diingatkan untuk menghargai nyawa orang lain, dapat menjaga akal sehat dan nafsu kita agar tidak menguasai hidup kita dan dapet menjadikan hidup kita bagai neraka. Selain itu kita diajar untuk hidup percaya dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kesimpulannya film ini adalah film horor yang dapat dilihat untuk menambah referensi kita akan hal-hal magis bahkan dapat menghibur bagi kita dan juga aman bagi mereka yang penakut. Meski tidak begitu memuaskan, ide cerita film ini cukup unik mengabungkan antara sedikit unsur film thriller dengan film horor yang menyajikan background hutan dan rumah sakit yang telah dikenal awam sebagi tempat angker. Film ini juga memunculkan wajah-wajah baru yang cukup muda dan segar untuk mewarnai dunia perfilman nasional. Mengangkat cerita yang ada di masyarakat sebagai sebuah film yang memacu adrenalin penonton.
Meski begitu, alangkah lebih baik apabila alurnya dibuat lebih jelas urutannya sehingga penonton lebih dapat mengerti dan memahami isi cerita. Selain itu pun untuk lebih menghasilkan unsur seram, sebaiknya kita lebih memperhatikan kerasionalan cerita dan kerasionalan akting dan tindakan pemain bereaksi terhadap kejutan-kejutan dan peristiwa yang dialami.
Namun demikian, film ini tetap layak untuk ditonton sebagai hasil karya anak bangsa kita. Tentu saja di dalam menghadapi film ini sebagai umat beriman tidak perlu takut dan gentar terhadap arwah-arwah yang ada. Film ini cukup untuk menjadi referensi dan hiburan akan dunia perfilman kita.

Pasir Berbisik

Produksi : Saito Production-Camila Internusa Films-Christine Hakim Films

Sutradara : Nan Achnas

Produser : Shanty Harmana-Ueda MakotoHaris Lasmana Christine Hakim

Cerita : Nan Achnas

Durasi : 106 menit

Pasir Berbisik ini adalah sebuah film keluaran tahun 2001 yang mengisahkan kehidupan seorang gadis bernama Daya yang tinggal bersama ibunya, Berlian yang hidup di daerah pesisir pantai yang berpasir hitam di sebuah kawasan terasing. Ayah Daya, Agus pergi menghilang entah kemana saat Daya masih kecil. Daya hidup di dalam ke sendirian dan keterkungkungannya karena ibunya Berlian yang amat sayang padanya melarangnya untuk berbicara dengan orang asing bahkan dengan wanita-wanita di sekitar lingkungan mereka.

Sosok keibuan Berlian, kebijaksanaan, kegigihan dan kerja kerasnya begitu tampak dalam akting dan penjiwaan yang begitu kuat oleh artis kawakan, Christine Hakim seperti yang ia perankan dalam film sebelumnya ”Daun di atas Bantal”. Berlian bekerja keras menjual jamu dan membantu bidan untuk melahirkan maupun mengaborsi wanita-wanita kampungnya hanya untuk membahagiakan anak semata wayangnya.

Daya yang kesepian, sering membayangkan sosok ayahnya saat masih kecil dengan wayang-wayang yang biasa dimainkan ayahnya. Dalam keanehannya, Daya tumbuh sebagai gadis yang introvert, lugu dan polos memiliki kebiasaan yang aneh yaitu menempelkan telinganya di atas pasir, seolah pasir itu berbisik kepadanya. Peran Daya yang dibawakan oleh Dian Sastro ini juga berhasil dijiwai dengan cukup lancar oleh artis muda ini. Terbukti Dian berhasil meraih Lotus award untuk kategori artis terbaik dalam Deauville Asian Film dan Silver Screen Award didalam Singapore International Film Festival. Meski akting Dian di dalam film ini tak sebaik dalam aktingnya dalam film terdahulunya ”Ada Apa Dengan Cinta?”, keluguan dan kepolosannya terlihat begitu alami dan penuh penjiwaan.

Berlian dan Daya hidup dengan tenang, sampai suatu saat kondisi kampung mereka genting. Banyak terjadi pembunuhan, penangkapan tanpa sebab yang jelas bahkan ada kabar bahwa gubuk-gubuk di kampung mereka akan dibakar. Berlian yang sudah dibujuk adiknya menolak untuk berpindah dari tempat tinggal mereka dengan harapan bahwa mereka akan baik-baik saja di tanah mereka. Adik Berlian adalah Delima ,seorang penari Jawa yang diperankan oleh Karlina Inawati dengan begitu luwes dan lemah gemulai. Aktingnya sebagai seorang penari cukup baik, ditambah dengan sikapnya yang menonjol terlihat oleh penonton adalah mudah beradaptasi dan biasa lari dari masalah yang dihadapi.

Ternyata apa yang diharap tidak terjadi, gubuk mereka dibakar, kampung mereka hancur luluh lantak. Dengan membawa sisa harta benda mereka yang seadanya, mereka berdua harus berpindah ke daerah lain. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan pria yang diperankan oleh Dik Doank yang cukup baik memberikan mereka sebuah topeng kepada Daya yang menurut kepercayaan dapat menghindarkan dari roh-roh jahat dan hantu-hantu gurun.Daya dan Ibunya kemudian berjalan mengarungi gurun pasir untuk berpindah ke daerah yang mereka sebut pasir putih. Ketika di tempat baru Daya bertemu seorang sahabat baru bernama Sukma yang diperankan oleh Dessy Fitri. Daya dan Berlian mulai meniti kehidupan mereka dengan gigih.

Keadaan mulai berubah saat Agus tiba-tiba saja muncul kembali dalam kehidupan mereka.Walaupun ragu, Berlian dan Daya mulai menerima kehadiran Agus dalam hidupnya. Agus bahkan berhasil membahagiakan Daya yang rindu akan sosok ayah. Agus digambarkan sebagai sosok ayah yang kurang bertanggung jawab dan sedikit egois. Agus yang diperankan oleh pemeran kawakan, Slamet Rahardjo ini yang meski perannya tak terlalu menonjol cukup membuat penonton menjadi membencinya karena beberapa saat setelah itu Agus terlilit hutang dan ia rela membawa Daya pada lintah darat Suwito demi melunasi hutang itu. Aktingnya sebagai ayah yang begitu saja meninggalkan keluarganya dan rela menjual kegadisan dan kepolosan anak gadisnya sendiri cukup berhasil dijiwai dengan baik.

Didi Petet memerankan peran Suwito dengan cukup meyakinkan. Sebagai seorang lintah darat yang bermata keranjang, ia cukup membuat penonton jijik karena demi selera dan nafsu seksnya ia menginginkan gadis yang usianya begitu muda untuk dinodai. Daya yang polos dan lugu hanya bisa menuruti kemauan Suwito tanpa ia bisa memberontak, menerbitkan rasa iba dan menyiratkan ketidakberdayaan seorang wanita.

Film bergenre drama ini hadir di tahun 2001 membawa wacana baru bagi dunia perfilman dengan mengangkat tema kehidupan sosial yang berasal dari realita masyarakat Jawa yang begitu kental dan sarat akan budaya. Unsur budaya yang begitu terasa dalam pemakaian busana tradisional seperti penggunaan kebaya, kain jarik, sarung, ikat kepala, penggunaan konde serta gaya percakapan sehari-harinya yang meski menggunakan bahasa indonesia sehari-hari masih tercampur bahasa Jawa yang sedikit medhok. Selain itu juga terlihat dalam sarana wayang, topeng, dan tarian jawa sebagai pelengkap dalam film ini. Beberapa kepercayaan jelas terlihat seperti budaya mengambil pasir dari tanah asal dan disebarkan ke tanah yang baru dan juga budaya untuk membangun rumah tidak menghadap arah angin.

Film yang mengambil setting di perkampungan tepi pantai berpasir hitam, lalu berpindah ke gurun dan ke daerah berpasir putih yang terletak di daerah Jawa Timur yang cukup menyajikan panorama yang indah dibaur dengan keheningan alam yang masih begitu alami dan menyajikan kesederhanaan tersendiri. Meskipun juga menampakkan suasana kering, gersang yang tampak dalam ketiadaan hujan dan sedikitnya vegetasi yang ada. Suasana disepanjang film terasa hening, mencekam, dan sepi didukung oleh kondisi background alam dan musik yang begitu hening. Musik yang ada begitu alami dan sederhana seperti deburan ombak, desisan pasir, dan bunyi alat musik tiup yang merdu dan indah. Selain itu terdengar iringan gamelan jawa yang pelan menciptakan suasana hening tersendiri. Terlihat juga didalam ketakutan akan adanya pembunuhan, penangkapan, dan huru hara yang terjadi suasana tetap mencekam dan penuh keheningan. Setting waktunya kurang lebih pada saat terjadinya gejolak politik dimana terjadi penangkapan tanpa sebab, pembunuhan dan huru hara dimana-mana bahkan di daerah pesisir pantai.

Film ini juga sarat akan makna dan pelajaran hidup yang berarti. Antara lain adalah pentingnya keluarga, tanggung jawab akan keluarga, kasih sayang terhadap anak, kerja keras. Pertama kita diajarkan didalam hidup ini harus gigih, ulet, bekerja keras untuk bertahan dan mensyukuri apa yang telah terjadi di dalam hidup kita. Didalam film ini disiratkan bahwa sebagai orang tua kita hendaknya mengasihi, melindungi, dan bertanggung jawab terhadap anak. Namun kita juga dianjurkan untuk tidak terlalu protektif dan mengungkung kebebasan anak. Didalam konfliknya tersirat bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga, tidak sebanding apabila kehormatannya ditukarkan hanya demi harta semata-mata. Selain itu pelajaran yang kita ambil kita harus berpikir panjang sebelum bertindak seperti bahwa sebaiknya kita jangan berhutang pada lintah darat.

Film ini dapat dibilang cukup sukses, karena meski pertama kali jalan ceritanya sulit dimengerti pada pertengahan film ini cukup menarik untuk ditonton. Nan Achnas dengan cerdas menghadirkan konflik sosial yang menjadi realita dalam kehidupan masyarakat, dipadukan dengan setting panorama gurun pasir yang indah, langit biru, perkampungan sederhana dan unsur-unsur pesona budaya Jawa yang begitu indah. Karena perannya dalam film ini Nan Achnas telah menyabet berbagai penghargaan dalam ajang-ajang bergengsi seperti meraih Special Jury Award dalam Asian-Pasific Film Festival tahun 2001 sebagai The Most Promising Director, Netpac Award-Special Mention dalam Brisbane International Film Festival di tahun 2003, FIPRESCI Prize dalam Oslo Films from the South Festival tahun 2002, dan masih banyak penghargaan lainnya dalam film ini.Pilihan artis-artis kawakan yang berpengalaman ini begitu tepat untuk menjiwai karakter-karakter dalam film ini.

Penyelesaian film ini terasa agak menggantung dan tidak jelas memberikan tanda tanya bagi penonton. Selain itu penonton yang dibawa ke kehidupan di pesisir pantai dituntut untuk berpikir keras untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang melintas dalam film ini. Seperti pada saat peristiwa pembunuhan, huru hara, tidak jelas mengapa hal itu terjadi. Selain itu, seperti yang sudah dikatakan tadi pada awal-awal film terasa begitu membosankan seperti menonton film dokumenter antara lain juga karena keabsurdan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Untungnya pada saat konflik terasa dan karakter-karakter semakin kuat, penonton baru menemukan titik terang menuju jalan cerita.

Film ini patut untuk ditonton karena didalamnya terkandung realita hidup masyarakat dengan budaya Jawa yang hidup dalam kesederhanaan. Selain itu meski menonton film ini harus banyak berpikir, film ini tetap istimewa karena mengandung amanat dan makna yang dalam dan berarti.